Tarekat dan Khadam

1 min read

Pertanyaan : Apakah Ilmu Khadam bisa dikategorikan ke dalam Ilmu Tasawuf / Tarekat ?

Jawaban :

Tarekat adalah kodifikasi cara praktik dari ilmu tasawuf. Ilmu tarekat sangat luas. Tetapi jelas tarekat bukan ilmu untuk mencari kesaktian dan bukan ilmu untuk mencari kekayaan. Tarekat tidak bertujuan agar seseorang mendapatkan karomah, lebih lebih lagi sekedar untuk memeroleh khadam.

Sekali lagi, soal khadam tidak ada kaitannya dengan ilmu tasawuf/ tarekat. Tetapi kita tidak menolak adanya khadam. Karena khadam itu sendiri berasal dari malaikat yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjaga isi Al-Qur’an, sehingga sampai titik dan hurufnya pun tidak akan berubah.

Jangan salah paham, bukan berarti Allah perlu bantuan untuk menjaga Al-Qur’an, tapi justru sebaliknya, para khadam itulah yang mendapat kehormatan karena diberi tugas menjaga Al-Qur’an yang agung.

Nah, barang siapa ahli membaca Al-Qur’an, para khadam itu dengan seizin Allah akan melayani orang tersebut, karena ikut menjaganya dalam bacaan. Khadam itu menghormati orang yang membaca Al-Qur’an.

Jadi, kita bertarekat dan belajar ilmu tasawuf bukan sekedar menundukkan khadam. Bukan !

Para khadam itu mendekat kepada kita karena bacaan Al-Qur’an yang kita amalkan, bukan karena perbuatan lain. Dalam hal ini karena kita ikut menjunjung kehormatan Al-Qur’an, bukan sebab dari kita, tapi dari Allah karena kita ikut memuliakan Al-Qur’an (kalamullah).

Para awliya’ tidak ada yang ta’alluq (terpaut hatinya) kepada ilmu khadam. Guru guru tarekat justru merasa malu bila mendapatkan karomah. Mereka malu, mawas diri, apakah pantas menerima karomah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka takut karena karomah itu salah satu bentuk ujian kepada mereka.

Apalagi bila ia menjadi masyhur (terkenal) dengan karomahnya, maka akan semakin menjadi beban fitnah (cobaan) yang berat. Maksud fitnah di sini, cobaan dari dalam diri sendiri. Dengan adanya kemasyhuran, mungkin akan timbul ananiyah (ke-aku-an), selanjutnya menumbuhkan kesombongan. Maka para wali menjadi sangat takut, tidak bangga dan mencari cari karomah.

 

Jawaban Habib Luthfi bin Yahya

Dimuat dalam majalah Al-Kisah No. 11/Tahun XI/2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *