Tahlil 40 hari Dilakukan oleh Para Sahabat ini Penjelasan Kyai Chalwani

2 min read

Tahlil 40 hari “dianggap” sebagai tradisi NU, ternyata itu telah dilakukan sejak masa sahabat.

Bismillahir rahmaanir rahiim

Tahlil 40 hari Syaikhina Simbah Kyai Maimun Zubair baru saja berlalu. Pengunjung yang membludak memenuhi jalur pantura rembang membuat kita semakin mantap bahwa beliau termasuk orang yang dicintai Allah ta’ala.

Mbah Maimun adalah satu orang yang bobotnya mungkin melebihi seribu orang, seratus ribu orang atau bahkan lebih lagi. Memang, setiap manusia “diberi bobot” oleh Allah sesuai dengan kehendaknya.  Simak penjelasan mengenai hal ini di : https://www.mqnaswa.com/rahasia-kata-umat-dalam-al-quran-bobot-nabi-ibrahim-alaihis-salam/

Dalam “Slametan 40 hari” itu, banyak kisah kisaha yang luar biasa, banyak pelajaran pelajaran yang istimewa. Dari yang “beraroma” karomah keajaiban, sampai nasihat yang menggetarkan dari Habib Luthfi bin yahya. Nasihat itu sangat mengguncang, Menyadarkan bahwa perjuangan para pendahulu itu begitu berat, sementara kita hanya tinggal menikmatinya saja. Menyadari kita, bahwa kita benar benar kehilangan, dan kapan kita bisa benar benar bisa menggantikan par a beliau yang telah wafat.

Taushiyah Habib Luthfi silahkan baca : https://www.dutaislam.com/2019/09/habib-luthfi-ungkap-tugas-kewalian-mbah-maimoen-zubair.html

Pada kesempatan itu pula Kyai Chalwani, pengasuh Pondok Pesantren AnNawawi Berjan Purworejo menyampaikan taushiyah. Dalam tausiyahnya itu beliau menegaskan bahwa tahlil 40 hari yang dilakukan warga NU khususnya, yang mengikuti para ulama, itu benar benar mengikuti apa yang dilakukan oleh salafunas shalihiin (generasi salaf yang shaleh shaleh).

Tentang Kyai Chalwani dapat dibaca di : https://www.nu.or.id/post/read/66911/kh-achmad-chalwani-berdakwah-hingga-mancanegara

Beliau menjelaskan berdasarkan kitab Thulu’uts Tsurooyaa Li Idh-haari Maa Kaanaa Khofiyya, bahwa ada seorang tabi’in bernama ‘Ubaid bin ‘Umair. Tabi’in artinya murid dari sahabat. Berarti cucu murid dari Kanjeng Nabi. ‘Ubaid bin Umair adalah tabi’in yang masih menjumpai lebih dari 60 orang sahabat Nabi. yang masih menjumpai sahabat Nabi.

Sewaktu waktu ada saudara atau handai taulan yang meninggal, para sahabat Nabi ini melakukan (kalau bahasa kita) “Slametan” sampai 40 hari. Slametan tersebut makna dasarnya adalah minta selamat kepada Allah terutama untuk almarhum, dengan berdo’a dan memberi sedekah.

Disebutkan pula ada seorang tabi’in yang bernama Thawus, juga mengatakan bahwa para sahabat Nabi (berarti guru guru beliau) itu, jika ada yang meninggal, maka mereka melakukan “Slametan – sedekahan” sampai 7 hari.

Al-Imam Jalaludin As-Suyuthi mengatakan, ‘Ubaid (yang mengabarkan Selametan 40 hari ini) lebih ‘alim daripada Thawus. Bahkan Imam Jalaludin As-Suyuthi menuatakan bahwa hadits yang disampaikan Thawus ini statusnya “marfu”. Hadits marfu’ adalah hadits yang disandarkan sampai kepada Nabi. Artinya hal itu bukan hanya dilakukan sampai generasi sahabat.

Jadi, beliau Kyai Chalwani menegaskan, slametan sedekahan yang kita lakukan ini, benar benar mengikuti guru guru kita sampai dengan para sahabat Nabi. Hal demikian itu dilakukan demi mendoakan, mengharapkan keringanan dalam menghadapi fitnah kubur, dan keselamatan sampai negeri akhirat yang abadi.

Karena kubur adalah manzilah (persinggahan) pertama dalam perjalanan panjang. 1 hari di kubur sama dengan 1000 hari di alam dunia.  Jika di dalam persinggahan pertama ini, ahli kubur mendapat kemudahan, keselamatan, maka pada perjalanan berikutnya akan semakin mudah dan akan mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, jika dalam persinggahan pertama ini ahli kubur menemui kesulitan, bahkan adzab, maka selanjutnya akan semakin berat. Na’udzu billaahi min dzalik. Inilah makna penting dari slametan (yang kemudian dikenal dengan istilah tahlilan) yang dilakukan oleh keluarga dan tetangga yang masih hidup.

Tidak ada keraguan lagi bagi orang yang memiliki hati untuk banyak mendoakan keluarga, saudara, handai taulannya. Mengikuti para ulama, yang mengikuti para guru guru, terus sampai dengan generasi salaf (terdahulu), tabi’in, sahabat sampai dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Wallahu A’lam

Alhamdulillaahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Senin Wage, 16 September 2019 M / 16 Muharram 1441 H

Wawan Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *