Rasulullah Mendiktekan Langsung Nadhom Aqidatul Awwam

3 min read

Pengajian Ke-2 Kitab Aqidatul Awwam : Penyusunan Nadhom Aqidatul ‘Awwam yang didiktekan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

Mukadimah[1]

Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberi nikmat berupa makrifat (mengenal Allah) kepada hamba-hamba yang beriman kepada-Nya, dan dengan tambahan anugerah-Nya, Allah memuliakan mereka untuk melihat-Nya di syurga. Hamba bersaksi, sesungguhnya tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali hanya Allah, Raja yang Maha Mengetahui. Dan hamba bersaksi, sesungguhnya Sayidina Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemilik setinggi-tingginya kedudukan di sisi Allah.

Limpahan rahmat Allah dan kesentosaan semoga selamanya atas orang yang diutus Allah sebagai rahmat untuk seluruh manusia (yakni Nabi Muhammad ﷺ), yang, jika tidak karenanya maka pastilah keadaan manusia lebih buruk daripada binatang. Rahmat dan keselamatan juga semoga terlimpah atas keluarga beliau yang berbakti lagi mulia, juga para sahabat beliau yang laksana pelita kegelapan, dan seluruh orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan (penuh kesungguhan) sampai pada hari berbicaranya seluruh anggota badan dan “bisu”nya lisan (yakni hari kiamat). Semoga rahmat dan kesejahteraan itu langgeng dan terus menerus, tidak pernah berhenti terlimpah atas mereka semua selagi masih berjalannya waktu dan masa.

 

Pengertian Aqidatul Awwam

Aqidah artinya Keyakinan, keimanan, mengenal Allah dan sendi-sendi keimanan kepadaNya. Awwam artinya orang-orang umum (bukan orang pilihan), bisa juga diterjemah “orang yang masih bodoh”. Jadi belajar Aqidatul ‘Awwam artinya belajar Keyakinan, belajar keimanan, belajar mengenal Allah dan sendi-sendi keimanan kepadaNya untuk orang yang masih bodoh-bodoh.

Apakah kita yang belajar Aqidatul Awwam ini dikatkaan “orang bodoh” oleh penulisnya ? sehingga ia menamakan kitabnya seperti itu ?

Tidak ! Meskipun kita sebenarnya sangat pantas dikatakan “orang bodoh” karena kenyataannya demikian, tetapi sebenarnya, apa yang dikatakan oleh para ulama itu mereka tunjukkan terutama untuk diri mereka sendiri. Para penyusun kitab yang agung mulia itu, selalu dapat melihat kekurangan diri mereka.

Perhatikan salah satu pembuka dari Syarah (penjelasan) kitab Aqidatul ‘Awwam (Pelajaran Ke-imanan untuk orang bodoh) yang disusun Syaikh Nawawi Banten dengan nama Nurudholam (cahaya penerang kegelapan) :

Amma Ba’du

Berkatalah al-Faqir (orang yang sangat membutuhkan) ampunan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa, karen banyaknya dosa yang dilakukannya, yang bernama Muhammad Nawawi asy-Syafi’i : Ini adalah syarah (penjelasan) yang luhur dan bagus atas nadhom yang dinamakan Aqidatul ‘Awwam karangan Syaikh al-‘alim al-lawdza’i (yang pandai dan sangat cerdas) Sayid Ahmad al-Marzuqi al-Maliki.

Syarah ini kuberi nama Nurudh Dholam ‘ala Aqidatil Awwam. Harapanku adalah mendapatkan manfaat dari kitab ini, untukku, dan untuk orang-orang yang baru belajar sepertiku. Aku memberanikan diri menyusun syarah ini, meskipun aku bukanlah orang yang ahli untuk hal itu. Semoga dengan kitab ini Allah memberi manfaat kepada setiap orang yang menuntut ilmu.

Demikianlah akhlak beliau para ulama mengajarkan adab sebelum ilmu.

 

Kisah Tersusunnya Nadhom Aqidatul Awwam

Pada bagian sebelumnya, kita telah membaca nasab, ilmu dan akhlak Sayid Ahmad Al-Marzuqi yang semuanya bernilai tinggi. Nasabnya agung karena beliau keturunan orang-orang mulia hingga bersambung sampai dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bukan hanya secara nasab, tapi ilmu beliau mencapai ketinggian ilmu pada masanya, sehingga dijadikan mufti. Dan keduanya (nasab dan ilmu) terejawantah dalam adab dan akhlak yang mulia sebagaimana sudah kita bahasa pada pengajian ke-1. Tidak hanya itu, kita secara ilmu “terhubung langsung” dengan beliau melalui guru-guru kita, para ulama Nusantara yang belajar kepada murid beliau, seperti Syaikh Nawawi Banten, Kyai Sholeh Darat, Ahmad Khatib Minangkabu dan lain-lain. Baca kembali di : https://www.mqnaswa.com/sayid-ahmad-al-marzuqi-dzuriyah-rasul-penyusun-aqidatul-awwam/

Dan kisah tersusunnya Nadhom ini, semakin menguatkan alasan mengapa kita “harus” mengaji Aqidatul Awwam ini. Karena nadhom ini langsung “disusun” oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan didoakan oleh beliau dengan keberkahan. Simak kisah berikut ini yang kami nukil dari Kitab Nurudholam Syarah Aqidatul ‘Awwam karya Syaikh Nawawi Banten rahimahullah. :

Ketahuilah, sebab dari tersusunnya nadhom ini adalah, pada malam Jum’at pertama bulan Rajab tahun 1258 H (Agustus 1842 M), di akhir malam, Kyai Nadhim (Kyai yang menyusun nadhom ini, yakni Sayid Ahmad al-Marzuqi) bermimpi melihat Nabi Muhammad ﷺ dikelilingi para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Nabi ﷺ berkata kepada beliau (Sayid Ahmad al-marzuqi) : “Bacalah nadhom Tauhid, yang  barangsiapa menjaga/ menghafalnya akan masuk syurga, dan memperoleh setiap harapannya yang sesuai dengan Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah”

Sayid Ahmad menjawab : “Nadhom apakah itu wahai Rasulullah ?”

Para sahabat Rasul menjawab : “Dengarkanlah apa yang akan dikatkan oleh Rasulullah”

Rasulullah ﷺ kemudian berkata : “Ucapkan : أَبْــــــــــدَأُ بِــــــاسْــــــــــمِ اللهِ وَالـــــرَّحْــــمٰـــــنِ.”

Maka Sayid Ahmad al-Marzuqi mengikuti dengan mengucapkan : “  أَبْــــــــــدَأُ بِــــــاسْــــــــــمِ اللهِ وَالـــــرَّحْــــمٰـــــنِ.” sampai kepada bait ke-26, yakni :

وَصُــــــــــحُفُ الْخَـــــلِيْـــــلِ وَالْـــــكَــلِـــــيْـــــمِ     ﴿٢٦﴾   فِيـــــْهَـــــا كَـــــلَامُ الْـــــحَـــــكَـــــمِ الْعَلِيْـــــمِ

sementara Rasulullah ﷺ menyimak bacaan Sayid Ahmad al-Marzuqi.

Ketika Sayid Ahmad terbangun dari tidurnya, beliau mengulang apa yang telah beliau baca dalam mimpi, ternyata beliau masih menghafalnya dari awal sampai akhir. (Maka beliau pun suka mengulang ulang nadhom ini. Beliau sangat cinta nadhom ini karena terkenang perjumpaan dengan Rasul dan karena sangat bahagia mendapatkan anugerah demikian besar).

Hingga pada malam Jum’at tanggal 28 bulan Dzulqa’dah 1258 (3 bulan berselang), di waktu sahur, Sayid Ahmad al-Marzuqi kembali bermimpi ditemui Nabi ﷺ yang kedua kalinya.

Nabi ﷺ berkata : “Bacalah yang telah engkau jaga/ hafalkan dalam hatimu”

Maka Sayid Ahmad al-Marzuqi membaca nadhom itu dari awal hingga akhir dengan berdiri di hadapan Nabi ﷺ (yang duduk di kursi kebesaran), sementara para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum berdiri disekeliling Nabi seraya berkata “amiin,,, amiin” setiap Sayid Ahmad al-Marzuqi membaca satu bait.

Setelah Sayid Ahmad selesai membaca, Nabi ﷺ berkata kepadanya : “Semoga Allah memberimu taufik untuk selalu dalam keridloan-Nya, menerima hal ini (yakni nadhom ini), dan melimpahkan berkah atasmu dan memberkahi seluruh mukminin, serta memberikan manfaat yang banyak (dengan nadhom ini) kepada seluruh hamba-hamba Allah. Amiin amiin,,,,

Kemudian Sayid Ahmad al-Marzuqi menceritakan kisah ini kepada murid-murid beliau, kepada masyarakat. Hingga mereka meminta beliau mengajarkan nadhom tersebut, dan beliau memenuhinya, dengan menambahkan bait ke-27 :

وَكُــــــــــلُّ مَـــــــــــــــا اَتٰى بِــــــــــهِ الــــــــــــرَّسُـــــــــوْلُ    ﴿٢٧﴾   فَحَقُّـــــــــهٗ التَّسْـــــــلِيْــــــــــمُ وَالْـــــقَبُـــــــوْلُ

hingga akhir bait ke-57.[2]

Semoga kita semakin mantap belajar Aqidatul Awwam ini, mengenal Allah dan sendi-sendi keimanan untuk kita yang masih awwam, bukan orang-orang istimewa, masih bodoh-bodoh. Kita belajar melalui sanad (jalur transmisi) keilmuan para ulama, dari guru-guru kita, sampai pada para guru ulama Nusantara yang belajar kepada Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan murid langsung Sayid Ahmad AlMarzuqi (penyusun Aqidatul Awwam) sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang pertama kali mendikte-kan nadhom ini kepada beliau.

Semoga berkah manfaat, alfatihah,,,,

 

Wallahu A’lam
Alhamdulillahi robbil ‘aalamin

Kertanegara, Naswa
Senin Pahing, 09 Maret 2020 M / 14 Rajab 1441 H
Wawan Setiawan

[1] Muqaddimah ini diambil (diterjemah dari) kitab Nurudh Dholam Syaikh Nawawi Banten

[2] 30 nadhom ini beliau tambahkan karena cinta beliau kepada Nabi. Nadhom ini di awali dengan kata “Setiap apa saja yang datang dari Rasul, maka sudah menjadi “hak nya” atau wajib atas kita untuk pasrah dan menerima” lalu beliau menceritakan tentang Rasul, ayah bunda, keluarga hingga perjalanan Rasul dalam Isra Mi’raj. Semuanya menunjukkan cinta, syukur dan terima kasih beliau. Pen.

 

2 Replies to “Rasulullah Mendiktekan Langsung Nadhom Aqidatul Awwam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *