Pesan Rasulullah untuk Imam Ahmad lewat Imam Syafi’i

2 min read

Pesan Rasulullah ini merupakan kisah indah dari insan insan mulia. Semoga dengan membacanya kita mendapat limpahan keberkahan dari Allah ta’ala.

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Imam Syafi’i  dan Ahmad bin Hambal adalah guru dan murid yang keduanya menjadi orang-orang besar dalam sejarah. Keduanya menjadi Imam Mujtahid mutlak. Keduanya menjadi pendiri madzhab yang memiliki pengikut terbesar sepanjang zaman disamping dua madzhab besar lainnya (madzhab Hanafi dan Maliki). Bahkan madzhab keduanya, yakni Madzhab Syafi’idan Madzhab  Hambali menjadi madzhab yang terus bertahan, hingga kini.

Meskipun Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i, namun beliau banyak berbeda pendapat dalam masalah agama dan hukum hukumnya degan sang Guru. Tapi, meskipun keduanya berbeda pendapat, keduanya saling memuliakan.

Bacalah salah satu kisah indah dua insan mulia ini di : https://www.mqnaswa.com/puteri-imam-ahmad-menguji-kesalehan-imam-syafii/

Mereka berdua benar benar mengamalkan prinsip “tidak menganggap dirinya mulia dan berkedudukan, serta tidak bersikap sombong kepada orang lain”.

Bila ia seorang alim, hendaknya tidak merendahkan orang yang bodoh. Jika ia seorang guru, hendaknya ia tidak merasa lebih mulia dari muridnya. Ini sangat sulit, tapi dipraktikan dengan istimewa oleh keduanya. Sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berkenan hadir di antara mereka berdua.

Suatu hari, Imam Syafi’i tampak sangat gembira. Lebih gembira dari biasanya. Semalam ia bermimpi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini adalah anugerah bagi mereka yang sangat cinta kepada Rasulullah. Kegembiraan ini melebihi ketika ia mendapat keuntungan dan harta duniawi.

Lebih gembira lagi, karena dalam mimpi itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada Imam Syafi’i, “Sampaikan kepada Ahmad bin Hambal bahwa ia akan masuk syurga”.

Sungguh amat bahagia Imam Syafi’i mendengarnya. Bagaimana pun Ahmad bin Hambal adalah muridnya. Betapa beruntungnya ia memiliki murid seperti Ahmad bin Hambal. Ia telah menguasai 1 jut hadits. Ia menjadi Imam dari muslimin muslimat. Bahkan kini, ia mendapat perhatian besar dari junjungan alam, Sayidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sungguh Imam Syafi’i ingin segera berangkat menemui murid kinasihnya itu secara langsung. Tapi, keadaan masih belum memungkinkan. Imam Syafi’i ragu, apakah ia akan menunggu sampai bisa berangkat sendiri ? Tapi Ia tidak berani. Pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam harus segera disampaikan.

Maka ia pun menulis sepucuk surat untuk Imam Ahmad bin Hambal. Ia tuangkan rasa syukur dan rasa bahagia. Sebelum ia menulis bagian terpenting dari surat itu, pesan sang Nabi untuknya, kabar gembira dari beliau untuk Ahmad bin Hambal. Kemudian, Imam Syafi’i mengutus muridnya untuk pergi menuju kota tempat Imam Ahmad menunaikan tugas kehidupan.

Sesampai di tempat Imam Ahmad, sang utusan itu memberikan salam dan menyampaikan sepucuk surat dari Imam Syafi’i. Mendengar bahwa ia adalah utusan dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad tidak berani mengambil surat itu sambil berdiri, ia menerimanya dengan membungkukkan badan.

Ya Allah, betapa tingginya adab beliau kepada sang Guru, padahal beliau pun sudah menjadi Maha Guru. Padahal yang datang “hanya” suratnya saja.

“Duduk dan beristirahatlah lebih dulu” kata imam Ahmad kepada utusan itu. Ia memberikan pelayanan yang baik dan memuliakan utusan Imam Syafi’i, padahal ia sendiri adalah seorang imam yang dilayani oleh banyak sekali murid.

Betapa bahagianya Imam Ahmad ketika membaca surat dari Gurunya yang membawa pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tidak terkira bahagaianya. Bahkan itulah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Bagaimana tidak ?itu adalah cita cita termulia. Masuk syurga bersama Nabi dan lebih lagi Nabi sendiri yang mengabarkannya.

Ketika sang utusan itu akan pamit pulang. Imam Ahmad berkata, “Aku tidak punya benda yang berharga melebihi gamis ku ini. Jubahku ini telah kugunakan untuk beribadah kepada Allah ta’ala dan mengajar murid murid agar mengenal Allah. Inilah milikku paling berharga. Ambillah untukmu. Engkau telah menjadi perantara keberuntunganku”.

Ketika utusan itu kembali kepada Imam Syafi’i dan menceritakan bagaimana perlakuan murid beliau kepadanya. Imam Syafi’i berkata, “Sungguh beruntung, engkau mendapatkan jubah Ahmad bin Hambal. Tolong pinjamkan kepadaku sebentar. Aku akan merendamnya dalam air dan aku akan gunakan airnya untuk tabaruk”.

Tabaruk artinya mengambil barokah. Bisa dengan cara diminum, untuk mandi atau apa pun yang intinya mengharapkan berkah dari Allah ta’ala melalui kemuliaan sesuatu yang dicintai Allah.

Ternyata, air yang telah “dicelup” jubah Imam Ahmad itu, oleh Imam Syafi’i digunakan untuk mengobati orang orang yang sakit.

Kisah pesan Rasulullah ini membuka mata kita akan kemuliaan Imam Syafi’i sang Guru. Demikian juga betapa mulianya Imam Ahmad sang murid. Apalagi beliau baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tetap memerhatikan keduanya meski telah berada di Rafiqul A’la (alam tinggi / alam barzakh).

Betapa Allah memuliakan hamba hamba yang telah dipilihNya untuk menjadi uswatun hasanah, menjadi berkah untuk umat manusia sepanjang zaman.

 

Wallahu A’lam.

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamin.

Sumber : Tuhfatul Asyraf

 

Kertanegara, Naswa, Wawan Setiawan

Ahad Wage, 15 Desember 2019 M / 18 Rabi’ul Akhir 1441 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *