Perumpamaan yang Menohok untuk Amal yang Riya (Bukan karena Mencari Ridla Allah)

1 min read

Pengajian Kitab Tanbihul Ghafilin
Bagian Ketiga tentang Tidak Bermanfaatnya Amal yang Riya (Bukan karena Mencari Ridla Allah ta’ala)

Bismillaahir rahmaanir rahiim

(Pada bagian sebelumnya dikatakan bahwa hal yang paling ditakutkan Rasul menimpa umat beliau adalah amal yang riya. Selengkapnya baca di : https://www.mqnaswa.com/hal-yang-paling-ditakutkan-rasul-akan-menimpa-umat-islam/

Karena barangsiapa beramal tidak karena menginginkan ridla Allah ta’ala, tetapi karena riya / ingin dilihat orang, maka tidak ada bagian untuknya kecuali kesulitan dan kepayahan).

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam sebuah hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh, beliau berkata :

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapat balasan kecuali hanya lapar dan dahaga. Banyak orang yang qiyamul lail (shalat malam) tapi tidak mendapat balasan kecuali hanya begadang dan lelah”.[1]

Yakni jika puasa dan shalatnya itu tidak karena ingin mendapat ridla Allah ta’ala, maka tidak ada pahala bagi orang itu.

Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian hukama (Arif billah), beliau berkata : “Perumpamaan orang yang beramal karena riya (ingin kebaikannya dilihat orang) dan sum’ah (ingin berita tentang kebaikannya didengar orang) adalah seperti seorang laki-laki yang pergi ke pasar. Kemudian ia memenuhi kantongnya dengan kerikil.

Orang-orang yang melihatnya berkata, “Wah, betapa penuhnya kantong laki-laki ini” (padahal isinya Cuma kerikil).

Maka tidak ada manfaat yang bisa didapat oleh laki laki itu selain ucapan dari manusia. Jika dia ingin membeli sesuatu, dia pasti tidak akan mendapatkannya dengan kerikil itu.

Demikian halnya orang yang beramal dengan riya dan sum’ah[2], tidak ada manfaat amal bagi dirinya kecuali hanya mendapatkan ucapan/ pujian manusia saja, dan tidak ada ganjaran baginya di akhirat.

Sebagaimana firman Allah ta’ala : (QS. Al-Furqan/25 : 23)

وَقَدِمْنَآ إِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عِمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنْثُوْرًا.

“Dan kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”

Maksudnya, amal amal yang dikerjakan bukan karena mencari ridla Allah ta’ala Kami batalkankan ganjarannya dan Kami jadikan amal itu seperti debu yang bisa terlihat bertebaran ketika terkena sinar matahari.

Waki’ meriwayatkan dari seseorang yang mendengar dari Mujahid, beliau berkata : “Datang seorang laki-laki ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bersedekah. Yang kucari dari sedekah itu adalah ridla Allah ta’ala. Tapi aku senang jika aku dikatakan orang yang baik (dengan sedekahku itu)”. Maka turunlah ayat : (QS. Al-Kahfi/18 : 110)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖ أَحَدًا

“Barangsiapa mengarap perjumpaan dengan Tuhannya, maka kerjakanlah amal shaleh dan janganlah (seorang pun dari kalian) menyekutukan Allah dengan orang lain dalam beribadah kepadaNya”.

Penjelasan ayat :

“Barangsiapa mengarap perjumpaan dengan Tuhannya”, yakni orang yang takut ketika ia berdiri di hadapan Allah dan ditanya “Siapa yang benar benar mengharap pahala dari Allah?”

“Maka kerjakanlah amal shaleh”, maksudnya amal yang ikhlas.

“dan janganlah (seorang pun dari kalian) menyekutukan Allah dengan orang lain dalam beribadah kepadaNya”.

[Sebagaimana pembahasan sebelumnya, Riya dikategorikan sebagai syirik kecil, menyekutukan Allah dalam beramal, yakni beramal tapi menginginkan perhatian selain Allah ta’ala.

Semoga kita terhindar dari Riya. Amiin.]

Wallahu A’lam.

Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

Pengajian PakNas di Musholla Ar-Raudlah MQ. Nasy’atul Wardiyah Bersama Ust. Hambali Ahmad

Kertanegara, Senin Kliwon, 4 Februari 2019 / 29 Jumadil Awal 1440 H

Wawan Setiawan


[1] Sanad : dari Muhammad bin Fadhl dari Muhammad bin Ja’far dari Ibrahim bin yusuf dari Isma’il dari Umar dari Abu Hurairah

[2] Riya : ingin amalnya dilihat orang lain ; sum’ah : ingin amalnya dibicarakan (sampai ke telinga) orang lain.

Baca Bagian sebelumnya di :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *