Munkar Nakir Datang dari Empat Arah tapi Tidak Diizinkan

2 min read

Munkar Nakir adalah disebut fattanal qobri. Menjadi ujian bagi manusia di dalam kubur. Tetapi ada orang yang tidak bisa didatangi dari empat arah. Inilah penjelasannya dalam Pengajian Kitab Tanbihul Ghafilin bagian ke-27, bab Dahsyatnya Siksa Kubur.

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Allah ta’ala berfirman : QS. Ibrahim/14 : 27

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ الظَّالِمِيْنَ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim

Ayat di atas telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, baca https://www.mqnaswa.com/macam-macam-kemantapan-dari-allah-taala/

Al-Faqih Abu Laits Assamarqadi[1] rahimahullahu ta’ala berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Ketika seorang mukmin dimasukkan ke dalam kuburnya, maka datanglah “fattanal qobri” (dua malaikat yang menjadi fitnah/ cobaan yang menggoncang jiwa ahli kubur), maka keduanya mendudukkan ahli kubur lalu menanyainya. Ahli kubur itu mendengar suara sandal sandal para pengiring ketika mereka beranjak meninggalkan pemakaman.

Kemudian kedua malaikat bertanya, “Siapa Tuhanmu ? Apa agamamu ? Siapa nabimu ?”

Si Mukmin menjawab, “Allah tuhanku. Islam agamaku. Muhammad nabiku”.

Kedua malaikat berkata, “Allah memantapkan hatimu. Tidurlah dengan keadaan bahagia”.

Inilah makna firman Allah QS. Ibrahim/14 : 27, yakni Allah memantapkan hati orang beriman untuk berkata yang benar, dan Allah “menyesatkan orang-orang yang dhalim”, yakni orang orang kafir dan munafik di dalam kuburnya.

Ketika malaikat bertanya, “Siapa Tuhanmu ? Apa agamamu ? Siapa nabimu ?”

Dia menjawab. “Aku tidak mengerti”

Maka dipukullah ia dengan pukulan yang keras hingga terdengar sampai timur dan barat, kecuali Jin dan manusia (mereka tidak bisa mendengarnya)”

Bercerita Abu Hazim dari Sayidina Umar radhiyallu ‘anhuma, Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam besabda, “Wahai Umar, bagaimana keadaamu ketika datang kepadamu “fatannal qobri”, Munkar Nakir.

Mereka berdua adalah malaikat yang sangat dahsyat. Berkulit hitam, bermata kelabu, gigi taringnya bisa membongkar bumi, rambutnya bisa meremukkan, suaranya seperti geledek yang menghancurkan, tatapan matanya seperti kilat yang menyambar. (Siapa pun menghadapi mereka berdua pasti gemetar karena dahsyatnya)”

Sayidina Umar radhiyallahu ‘anh menjawab, “Ya Rasulullah, apakah pada saat itu aku memiliki akal?. Dan apakah keadaanku waktu itu sama seperti keadaanku saat sekarang (bersama denganmu) ini?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Iya”

Sayidina Umar menjawab, “Kalau begitu aku akan mampu menghadapi Munkar Nakir, dengan izin Allah”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sungguh Umar ini diberi taufik (petunjuk) dari Allah ta’ala

AlFaqih berkata, telah menceritakan kepadaku Abul Qosim bin Abdirrohman bin Muhammad Asysyabadzi dengan sanad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Tidak ada mayit yang mati, kecuali ia berteriak dengan teriakan yang bisa didengar oleh semua hewan, kecuali manusia. Mereka akan pingsan mendengar suara itu”

Ketika jenazah dibawa ke kubur, jika ia mukmin, ia berkata, “Percepatlah membawa diriku. Ah, jika saja kalian tau segala kenikmatan yang ada di hadapanku, pasti kalian akan menyegerakan membawaku ke sana”.

Jika ia bukanlah seorang mukmin, ia berkata, “Jangan cepat cepat membawaku !. Kalau saja kalian melihat kesengsaraan yang ada di hadapanku, pasti kalian akan menunda nunda membawaku ke sana”.

“Ketika jenazahnya sudah ditimbun, datanglah kepadanya dua orang malaikat yang kulitnya hitam dan sorot matanya tajam dari arah kepalanya. Maka berkatalah “amal shalat” nya : “Jangan kamu datang dari arah ini. Telah banyak malam malam ia habiskan dengan begadang (qiyamul lail) karena takut akan tempat pembaringan (kubur) ini”.

Malaikat pun mendatangi dari arah kakinya. Maka berkatalah “amal baktinya kepada kedua orang tua” : “Jangan kalian datang dari arah ini. Kedua kaki ini telah berjalan dan bekerja untuk kedua orang tua karena takut akan tempat pembaringan (kubur) ini”.

Malaikat pun mendatangi dari arah kanan. Maka berkatalah, “amal sedekahnya” : “Jangan kamu datang dari arah ini. Ia telah menggunakanku (tangan kanan) untuk bersedekah karena takut akan tempat pembaringan (kubur) ini”.

Malaikat pun mendatangi dari arah kiri. Maka berkatalah, “amal puasanya” : “Jangan kamu datang dari arah ini. Ia telah banyak haus, lesu dan lapar karena takut akan tempat pembaringan (kubur) ini”.

Maka mayit itu dibangunkan dengan perlahan seperti membangunkan orang yang sedang tidur, lalu ditanya, “Apakah engkau tahu lelaki ini ? Lelaki ini adalah orang yang telah mengajarkan apa apa yang telah engkau lakukan?”

Si mayit bertanya, ‘Siapakah beliau ?”

Malaikat menjawab, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Maka mayit itu berkata, “Aku bersaksi, sesungguhnya beliau adalah utusan Allah”.

Kedua malaikat itu berkata, “Engkau hidup di dunia dalam keadaan mukmin, engkau pun mati dalam keadaan mukmin. Kemudian dilapangkan kuburnya. Lalu ditebarkanlah dalam kuburnya segala kemuliaan yang dikehendaki Allah ta’ala untuknya.

Maka kami memohon kepada Allah, petunjuk dan penjagaan. Semoga Allah melindungi kami dari hawa nafsu yang sesat dan menyesatkan, melindungi kami dari ghaflah (lalai kepada Allah). Melindungi kami dari adzab kubur. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memohon perlindungan kepada Allah dari hal hal itu.

 

Wallahu A’lam

Alhamdulillaahi robbil ‘alamin

Catatan Pengajian PakNas di Musholla Ar-Raudlah MQ. Nasy’atul Wardiyah Bersama Ust. Hambali Ahmad

Kertanegara, Jum’at Legi, 5 Juli 2019 M / 2 Dzulqo’dah 1440 H

 


[1] Dengan sanad dari Sa’id bin Musayyab dari Sayidina ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *