Menahan Letusan Gunung : Kanjeng Nabi, Sayidina Umar dan Habib Mundzir

3 min read

Kisah tentang kemiripan Mukjizat Nabi, Karomah Sayidina ‘Umar dan Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa menahan letusan Gunung

Bismillaahir rahmaanir rahiim

تُسَبِّحُ لَهٗ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاْلأَرْضُ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah (QS. Al-Isra/17 : 44)

Para ulama memahami, bahwa memang langit, bumi, gunung, semuanya bertasbih kepada Allah. Namun tasbih ini hanya bisa di dengar oleh para kekasih Allah seperti para Nabi, para awliya’ dan orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendegarnya.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anh berkisah, “Sungguh gunung gunung itu saling berbicara satu dengan yang lain. Yang satu berkata, “Apakah engkau dilewati oleh seseoran ahli dzikir?” Jika gunung yang ditanaya itu menjawab “Iya”, maka gembiralah kedua gunung itu.

Pada masa Nabi, Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Merasa ada banyak manusia istimewa yang menaikinnya, Uhud langsung bergetar. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq dan dua orang syahid. (HR. Bukhari 3472, Ahmad 12435, dan yang lainnya). Maka tenanglah Uhud itu dari getarannya.

Baca Karomah para sahabat : Sayidina Abu Bakar :  https://www.mqnaswa.com/karomah-khulafa-ur-rasyidin-1-karomah-sayidina-abu-bakar-ash-shiddiq/  Sayidina Utsman : https://www.mqnaswa.com/karomah-sayidina-utsman-bin-affan-radhiyallahu-anh/ Sayidina Ali : https://www.mqnaswa.com/karomah-sayidina-ali-bin-abi-thalib-karomallahu-wajhah/

Para ulama berpendapat getaran gunung Uhud itu karena gembiranya pada kedatangan Nabi. Memang Nabi menggambarkan gunung sebagai makhluk Allah yang “memiliki perasaan” seperti manusia. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita pun mencintainya”.

Namun, kejadian tersebut bisa juga dilihat sebagai fenomena alam,. Maksudnya, saat itu adalah saatnya terjadi pergeseran lempeng vulkanik (lempeng Gunung) pada Gunung Uhud sehingga menimbulkan gempa. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengetahuinya mengajak sahabatnya, dan dengan mukjizatnya, beliau  Shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan Uhud, biidznillaah, dengan izin Allah ta’ala.

Hal menenangkan gempa pun terjadi pada masa Sayidina Umar radhiyallahu ‘anh. Lebih lengkap baca di : https://www.mqnaswa.com/mencambuk-bumi-menyurati-sungai/

Namun, ada suatu kisah yang belum banyak dikenal, bahwa Sayidina ‘Umar pun pernah dianugerahi karomah untuk menahan letusan gunung. Dikisahkan, pada masa Sayidina Umar, muncul lahar dari sebuah gunung. Lahar itu muncul dari dalam gua yang sumbernya bersambung dengan gunung tersebut. Pelan pelan lahar mulai meluber, dan membakar apa saja yang ada di hadapannya.

Maka Sayidina ‘umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari (atau Tamim Addari) menuju gua dengan membawa sorban milik sayidina Umar. Abu Musa pun mencari jalan lain dari jalan turunnya lahar agar ia bisa mencapai mulut gua. Sesampai di sana Abu Musa pun melemparkan sorban milik Sayidina Umar ke dalam gua, hingga dengan izin Allah, gunung itu berhenti mengeluarkan lahar panas.

Hal ini tidak hanya terjadi di tanah Arab saja, bahkan hingga bumi Nusantara kita ini.

Pada tahun 2013 Gunung Papandayan di Provinsi Jawa barat hampir meletus. Sudah terjadi gempa gempa tektonik sehingga ditetapkan siaga I oleh BMKG. Habib Mundzir dan beberapa jamaah memohon izin kepada para petugas untuk naik ke puncak Papandayan.

Para petugas tidak memberi izin karena meskipun kondisi masih memungkinkan, tetapi bisa sangat berbahaya. Namun Habib Mundzir meminta izin sebentar saja untuk berdo’a di atas. Maka para petugas memberikan izin.

Sebagaimana penuturan saksi yang mengikuti beliau, di atas Papandayan habib Mundzir membaca Maulid, bertawasul dan melemparkan jubah beliau. Dengan izin Allah, gunung Papandayan pun mereda. Ketika habib Mundzir masih hidup, video rekaman do’a beliau di atas papadayan dilarang untuk disebarkan. Kini video tersebut banyak tersebar di berbagai media sosial seperti youtube, facebook dan sebagainya.

Terpikir dalam benak kami, betapa luhurnya para kekasih Allah. Dan mereka bukan hanya yang muncul dalam kisah kisah dan cerita cerita yang disebarkan. Tapi mereka berada di tempat tempat yang tidak diketahui orang lain. Mereka bersimpuh memohonkan keselamatan untuk umat manusia. Memohon diangkatnya musibah. Mereka sangat banyak di bumi raya ini.

Adapun yang dimunculkan Allah hanya sebagian kecil saja. Sebagai pelajaran bagi kita semua. Agar lebih meyakini kekuasaan Allah ta’ala. Mendekatkan diri padaNya dan memohon ampun atas dosa dosa kita. Agar kita memuliakan semua makhluk Allah hingga makhlukNya yang seolah tidak bernyawa. Terutama, kepada sesama manusia, yang bisa jadi, ia adalah kekasih yang dipilih Allah untuk mendoakan kedamaian bagi umat manusia. Sedangkan kita sama sekali tidak mengenalnya.

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, mengapa masih banyak gunung yang meletus, padahal para wali diberikan Karomah untuk meredakan gunung dan gempa?

Keyakinan kita mengatakan, semua itu adalah kehendak Allah, tidak ada satu pun Nabi, ataupun wali yang bisa menghalangi kehendak Allah. Tetapi tidakkah kita berfikir, bisa saja, sebenarnya bumi kita ini telah diguncang bencana besar yang maha dahsyat, tapi karena do’a para kekasih Allah, rintihan mereka di suatu tempat yang sunyi, Allah mengurangi banyak dari bencana yang seharusnya terjadi. Allah meredakan gempa yang seharusnya mengguncang dengan kekuataan yang lebih dahsyat.

Dalam suatu riwayat dikatakan, jika melihat perbuatan manusia yang benar benar lalai bahkan menentang Allah, maka seluruh makhluknya memohon agar segera timpakan bencana kepada mereka. Tapi ketika melihat hambaNya yang menangis di tengah malam, memohon pengampunan untuk orang-orang yang berdosa, memohon dilimpahkannya rahmat kasih sayang Allah, maka Allah tidak berkenan untuk menurunkan adzabnya.

وَمَا كَانَ الله لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ الله مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Nabi Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.

 

Wallahu A’lam.

Alhamdu lillahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Jum’at Kliwon, 1 Maret 2019 M / 24 Jumadil Akhir 1440 H 

Wawan Setiawan

Sumber : Bughyatul Adzkiya dan lainnya

Baca Juga Kisah Uhud ini di https://www.nu.or.id/post/read/84666/habib-zaid-bin-yahya-gunung-uhud-bergetar-ketika-memandang-rasul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *