Makna “la’llakum tattaqun” dan Puasa setelah Ramadlan

3 min read

Ramadlan adalah bulan puasa, tetapi hakikat puasa sendiri tetap berlangsung sepanjang kehidupan. Inilah penjelasannya

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Di dalam bulan Ramadlan ini, ayat yang paling melekat tentu saja adalah QS. Al-Baqarah/2 : 183 tentang puasa :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, “kutiba : diwajibkan” atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu “la’allakum tattaqun”

Ayat di atas mengandung sangat banyak faidah, dalam berbagai sisi kehidupan. Ibarat berlian. Jika dilihat dari satu sisi, ia akan menampilkan cahaya yang berbeda dengan ketika kita melihatnya dari sisi yang lain.

Kali ini kita akan belajar makna “la’allakum tattaqun” dan hakikat puasa dalam kehidupan kita.

La’allakum tattaqun adalah tujuan atau hasil dari berpuasa. Maka menjadi sangat penting untuk kita pelajari agar kita bisa membaca diri kita ini. Setelah kita berpuasa. Apakah kita telah meraih tujuannya? Apakah kita telah menggapai maksudnya ?

Makna “la’allakum tattaqun” yang biasa kita dengar adalah “agar kamu bertakwa”. Makna ini tentu benar adanya. Tetapi ada satu makna yang simpel dan aplikatif secara menyeluruh dengan hakikat puasa itu sendiri.

La’allakum tattaqun dapat diartikan dengan “agar kamu selamat”. Jadi terjemah ayat di atas adalah, “kerjakanlah puasa, agar kamu selamat”.

Selamat dari apa ? Tentu saja selamat dari api neraka di akhirat nanti. Artinya, kerjakanlah puasa, agar kamu semua selamat dari api neraka. Tetapi, jika kita melihat hakikat puasa itu sendiri, maka yang dimaksud dengan selamat di sini juga mencakup selamat di dalam seluruh aspek kehidupan dunia ini.

Mengapa demikian ?

Puasa bahasa arabnya “Shoum atau Shiyam”. Makna dasar dari “Shoum/ Shiyam” adalah “imsaak, yakni menahan/ menahan diri”. Menahan diri dari apa? – Menahan diri dari apa saja. Itu termasuk dalam pengertian Shaum/ shiyam/ puasa.

Perhatikan ayat berikut ini :

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُوْلِيْ إِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيَّا

Wahai Maryam, Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar kepada Allah Yang Maha Pemurah, aku akan Puasa, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini”.

Ayat di atas adalah perintah Allah kepada Maryam agar “shoum/puasa”, tapi dalam pengertian “menahan diri dari berbicara”. Tidak berbicara kepada kaumnya yang akan melemparkan tuduhan tuduhan keji kepadanya. Tuduhan bahwa Nabiyullah Isa ‘alaihis salam adalah “hasil perbuatan keji Ibu Maryam yang suci”, na’udzubillah. Maka Allah pesankan, agar Ibu maryam “puasa bicara”, sebab nanti Allah sendiri yang akan “menjawab” tuduhan mereka, melalui mukjizat bayi Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam yang bisa berbicara. Menjelaskan kedudukannya di hadapan Allah ta’ala.

Baca kisah Mukjizat Nabi Isa membangkitkan putera Nabi Nuh di : https://www.mqnaswa.com/kisah-nabi-isa-membangkitkan-sam-bin-nuh/

Jadi shoum artinya menahan diri, menahan diri dari apa saja.  Ini lah yang dimaksud shoum / puasa sebagai penyelamat dalam setiap sendi kehidupan kita.

Bukankah di dalam hubungan suami isteri, jika terjadi perselisihan antara keduanya, namun keduanya masih bisa saling menahan diri, maka bahtera keluarga tentu selamat. Jika seorang pemimpin atau pejabat, mampu menahan diri dari memakan yang bukan haknya, pasti akan selamat kemuliaannya di dunia akan mendapat kemuliaan yang langgeng di akhirat. Jika seorang teman, saudara, mampu menahan diri dari melihat keburukan, aib saudaranya, pasti persahabatan dan persaudaraan mereka akan langgeng. Dan seterusnya.

Bahkan, jika kita mempelajari sejarah mengapa manusia diturunkan ke muka bumi adalah karena Nabiyullah Adam ‘alaihis salam, ditakdirkan Allah “tidak bisa menahan diri” dari memakan buah khuldi.

Baca hikmah Nabi Adam memakan buah khuldi di : https://www.mqnaswa.com/hikmah-nabi-adam-memakan-buah-khuldi/

Sama sekali kita tidak berhak dan tidak boleh mempersalahkan Nabiyullah Adam ‘alaihis salam, karena baik memakan Khuldi atau tidak, Allah telah menetapkan bahwa Nabi Adam akan turun ke bumi. Memakan buah khuldi hanya sebuah perantara saja. Tetapi, dari situ, Allah ta’ala mengingatkan kita bahwa sumber kerusakan adalah ketika kita tidak mampu menahan diri.

Inilah makna penting puasa sebagai “tameng”, pelindung, penyelamat dalam segala sendi kehidupan. Benarlah Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

أَلصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah tameng, pelindung”

Ya, kita sudah fahami dari penjelasan di atas, kemampuan menahan diri adalah tameng dari segala kerusakan. Di zaman kapan saja, dalam setiap gerak peradaban manusia sejak zaman Nabi Adam sampai akhir nanti. Maka kita baca dalam ayat tersebut (QS. Al-Baqarah/2 : 183) mengatakan, “Sebagaimana (puasa ini juga) Aku wajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Yakni setiap masa, sejak zaman Nabi Adam ‘alaihis salam. Ini menguatkan bahwa makna hakiki puasa ini relevan dan “sangat penting”, sepanjang zaman.

Dan ini juga makna yang tersirat dari kalimat “kutiba ‘alaikum” : diwajibkan atas kalian (puasa)”.

Siapa yang mewajibkan ? tentu saja Allah yang menetapkan kewajiban berpuasa. Tapi mengapa Allah tidak disebutkan disini ? hanya disebut “diwajibkan atas kalian” saja ? Ya, karena seolah, ayat ini berkata, “Sungguh puasa ini sangat penting bagi perjalanan manusia, bahkan, meskipun – seandainya- bukan Allah yang mewajibkan puasa, tetap puasa ini benar benar penting bagi kehidupan manusia sepanjang sejarah”. Baik itu “puasa ritual” maupun puasa dalam makna hakiki, “menahan diri”.

Bagaimanapun “ritual puasa” Ramadhan pasti akan berakhir. Tapi “puasa” dalam pengertian hakiki dan mendasar inilah yang akan (dan semestinya) terus kita lakukan. Puasa inilah yang dikatakan Rasulullah shallalallhu ‘alaihi wasallam sebagai “perang yang sebenarnya”, Padahal beliau baru saja pulang dari perang paling bersejarah dalam Islam, Badarul Kubra (Perang Badar).

Namun, biasanya, puasa kita “rusak” menjelang berbuka puasa. Sejak pagi kita “sabar sabarin”, “tahan tahan”, menjelang buka, kita seperti lepas kendali. Kita membeli ini membeli itu. Tidak cukup dua macam menu, tiga empat ingin kita hidangkan dan lahap. Meskipun kenyataannya, kita tidak bisa memakan semuanya, meski kita paksakan sekalipun.

Akankah puasa kita (dalam pengertian “menahan diri”) bisa bertahan terus sampai setelah lebaran.  Sehingga kita bisa terus menempat posisi “la’allakum tattaqun”, meskipun Ramadhan sudah usai, ataukah puasa ini hanya ritual ramadhan, dan setelahnya “ambyar”,,, ??

Penting dibaca, hakikat Puasa dalam paparan seorang Syaikh Mursyid Thariqah Naqsyabandi : https://naqsyabandie.com/pesan-abah-irfai-nachrawi-tentang-hakekat-puasa/

Wallahu A’lam

Alhamdulillahi robbil ‘aalamin

Kertanegara, Naswa,
Selasa, 20 Mei 2020 M / 27 Ramadhan 1441 H

Wawan Setiawan

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *