Makna Gerakan Shalat dari Syaikh Nawawi Banten

2 min read

Pengajian Tanqihul Qoul al-Hatsits Syarah Lubabul Hadits Ke-4

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْبَابُ الْحَادِى عَشَرَ : فِى فَضِيْلَةِ الْمَسَاجِدِ

Bab Kesebelas menjelaskan tentang Keutamaan Masjid masjid

Masjid adalah rumah Allah, karena masjid masjid adalah tempat dilakukannya ibadah ibadah kepada Allah ta’ala.

الْبَابُ الثَّانِى عَشَرَ: فِى فَضِيْلَةِ الْعَمَائِمِ

Bab Keduabelas menjelaskan tentang sorban

الْبَابُ الثَّالِثَ عَشَرَ: فِى فَضِيْلَةِ الصَّوْمِ

Bab Ketigabelas menjelaskan tentang Keutamaan Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anh dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda : “Puasa adalah benteng/ tameng dari api neraka, selagi benteng/ tameng itu tidak dihancurkan. Sahabat bertanya : “Apa yang menghancurkannya? Rasulullah ﷺ menjawab : “dusta dan ghibah”.

الْبَابُ الرَّابِعَ عَشَرَ : فِى فَضِيْلَةِ الْفَرَائِضِ

Bab Keempatbelas menjelaskan tentang Keutamaan Amal-amal Fardlu (seperti shalat dan lainnya).

Berkata Nabi kita : “Asholah (shalat) itu shilah (hubungan) seorang hamba dengan Tuhannya” (yakni jika hamba mendirikan shalat, maka ia sedang menyambung dengan Tuhannya, jika hamba meninggalkan shalat maka ia sedang memutuskan hubungan dengan Tuhannya). Di dalam shalat terdapat pengabulan do’a, penerimaan amal amal, keberkahan rizki, rehat (refreshing) untuk badan, menghalangi hamba itu dari neraka, memberatkan timbangan amal, kemudahan melewati titian (shirath), dan kunci memasuki syurga”.

Berkata sahabat ‘Abdullah radhiyallahu ‘anh, “Shalat adalah amal yang mengumpulan semua amal ketaatan. Di dalam shalat terdapat Jihad fi sabilillah (berperang), karena orang yang shalat mestilah ia berperang dengan dua musuh besarnya, yakni hawa nafsunya sendiri dan setan. Di dalam shalat juga terdapat puasa, karena orang yang shalat tidak boleh makan dan minum, tetapi di dalam shalat ditambahi munajat (berbisik-bisik) kepada Allah, sedangkan dalam puasa tidak.

Di dalam shalat juga terdapat haji. Karena sebagaimana haji menuju baitullah (Ka’bah), orang yang shalat juga menuju rumah Allah (masjid/ musholla), dan ia bermaksud kepada pemilik rumah itu, yakni Allah ta’ala. Istimewa lagi, karena di dalam shalat diberi kelebihan berupaka kedekatan dengan alam malakut.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ : “Semua amal amal fardlu itu difardlukan Allah di bumi (yakni Allah mengutus malaikat untuk menyampaikan perintah Allah kepada Nabi di bumi), kecuali shalat. Sesungguhnya shalat difardlukan (diperintahkan) di langit (yakni ketika peristiwa Isra Mi’raj) dan aku (Rasulullah ﷺ) berada di hadapan Allah ta’ala (tidak melalui perantara malaikat)”.

 

Makna Gerakan Shalat dari Syaikh Nawawi Banten

Dalam gerakan shalat memiliki makna makna yang harus dihayati oleh orang yang mendirikannya, agar shalatnya lebih fokus (khusyu’). Makna dari mengangkat tangan ketika takbirotul ihram adalah hendaknya seorang hamba yang mendatangi shalat merasa tenggelam dalam dosa, keluputan, kelalaian (lupa) kepada Allah. Maka ia mengangkat tangannya (seperti orang tenggelam yang mengharapkan pertolongan). Seolah ia berkata, “Duhai Tuhanku, raihlah tanganku (selamatkan aku), sesungguhnya aku tenggelam dalam lautan kesalahan dan maksiat”.

Makna membaca Al-Qur’an (surat Fatihah) di dalam shalat adalah, “mengadu kepada Allah ta’ala”. (Dan sungguh Allah menjawab semua bacaan fatihah kita). Makna ruku’ (membungkukan badan) adalah seolah orang yang mendirikan shalat itu berkata, “Aku hanyalah hamba-Mu, aku membungkuk (tunduk) kepadamu”.

Baca Jawaban Allah ketika seorang hamba membaca Fatihah di : https://www.mqnaswa.com/dialog-allah-dan-hambanya-ketika-membaca-alfatihah/

Makna bangun dari ruku’ (i’tidal) seraya berkata, “robbanaa lakal hamdu (wahai Allah Tuhan kami, segala sanjung puji hanya milik-Mu, sepenuh langit sepenuh bumi, sepenuh alam selain langit dan bumi). Ketika itu hamba mengharapkan pembebasan dari dosa. Seolah Allah berkata, “Engkau telah melakukan banyak dosa”. Dan orang yang mendirikan shalat itu berkata, “Aku adalah hamba-Mu”. Maka Allah menjawab, “Aku bebaskan engkau dari dosa”.

Makna sujud yang pertama, ketika meletakan dahi di bumi, maka seolah hamba yang sujud itu berkata, “Aku hanyalah seorang hamba yang diciptakan dari tanah”. Ketika sujud yang kedua, saat ia meletakkan dahi di tanah ia berkata, “Aku pasti akan mati dan dikubur di dalam tanah”.

Makna bangun dari sujud untuk duduk (tahiyat) adalah seolah hamba itu berkata, “Dari dalam tanah ini aku akan dibangkitkan lagi di hari kiamat”. Dan makna salam (memohon keselamatan) dengan menengok ke kanan dan ke kiri adalah memohon keselamatan seolah hamba itu berkata, “Ya Allah berikanlah catatan amalku dari arah kanan, tidak dari arah kiri”.

Baca juga : https://islam.nu.or.id/post/read/100468/memahami-shalat-lahir-dan-batin

 

Wallahu A’lam
Alhamdulillahirobbil ‘alamin

Kertanegara, MQ Naswa
Rabu, 27 Mei 2020 M / 4 Syawal 1441 H
Wawan Setiawan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *