“Makan Bawang, Jangan Masuk Masjid !” Ini Penjelasannya.

1 min read

Makan Bawang pernah menjadi sebab dilarang masuk / mendekat ke masjid, ini penjelasannya.

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Ada banyak hadits yang jika kita memahami dari terjemahnya saja menjadi salah faham. Bahkan jika kita tergolong orang yang terlalu percaya diri, maka kesalahan tersebut berakibat fatal, karena kita tidak faham yang sebenarnya, tapi menganggap pemahaman kita lah yang benar, padahal hanya berbekal terjemah saja.

Contoh nyata adalah hadits “Suami milik ibunya” di https://www.mqnaswa.com/memahami-hadits-suami-milik-ibunya/ atau hadits “hiasan terbaik wanita adalah debu kaki suami” di https://www.mqnaswa.com/hiasan-terindah-bagi-seorang-suami-dan-isteri/ yang keduanya sering menyebabkan dugaan keliru dan diskriminatif pada wanita.

Termasuk hadits berikut ini, jika kita memahaminya secara tekstual saja, kemungkinan besar kita akan keliru.

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ أَوِ الثَّوْمَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنْ مَسْجِدَنَا

“Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih atau bawang daun, maka jangan sekali kali mendekat ke masjid kami” (HR. Bukhari)

Tampaknya larangan di atas keras sekali bukan. Tapi apakah maksudnya jika kita baru makan sesuatu yang ada bawang merah, bawang putih atau bawang daun lalu kita dilarang datang ke masid? Atau bagaimana?

Habib Munzir menjelaskan maksudnya, di zaman itu para sahabat makan bawang merah dan bawang putih langsung dimakan begitu saja, tidak dijadikan bumbu masakan seperti sekarang ini. Hal itu menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengganggu jika berkumpul dengan orang-orang.

Nah, Nabi sangat peka terhadap hal hal semacam ini, jangan sampai aroma mulut kita mengganggu orang lain dengan bau yang sangat tidak sedap. Maka beliau berkata barang siapa yang makan bawang hingga banyak dan bisa mengganggu orang-orang disekitarnya karena bau mulut dan badannya, jangan mendekat ke masjid kami, jangan duduk bersama kami.

Lantas para sahabat bertanya, “Ya Rasululllah, apakah ini makanan haram (sampai menyebabkan dilarang mendekati masjid) ?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Hadza halal (ini makanan halal)” tapi yang memakannya jangan dekat dengan kumpulan kaum muslimin.

Demikian tingginya kepekaan dan akhlak Nabi menjaga jangan sampai kita mengganggu kenyamanan orang lain. Barangkali di masjid kaum muslimin sedang shalat, dzikir, khusyu, atau sedang bermusyawarah terganggu aroma yang tidak sedap. Apalagi masjid adalah tempat yang agung.

Bagaimana zaman sekarang, tentu hal itu tidak terjadi lagi karena pada zaman kita ini, bawang hanya menjadi bumbu penyedap saja, dan tidak sampai menimbulkan aroma yang menyengat. Justru kalau di Indonesia bisa jadi hadits ini dipahami dengan “Orang yang makan Pete, Jengkol dan kawan kawan jangan dekati masjid”. Maksudnya tentu jika aroma dari makanan itu bisa mengganggu kenyamanan masjid. Misal baru makan jengkol, ke masjid, lalu buang air yang membuat bau menyengat. Maka ini dilarang. Jika baunya bisa di atasi maka tidak apa apa datang ke masjid dan berkumpul kaum muslimin.

Demikian (hadits ini memperlihatkan) pengagungan Nabi terhadap baitullah (masjid) dan orang-orang yang datang ke masjid. Hadits ini memberi pelajaran pada kita agar di manapun saja, kita jangan sampai membuat sesuatu yang menjadikan terganggu dan tidak nyamannya orang lain khususnya di tempat tempat yang mulia.

Baca agungnya adab / akhlak Habib Munzir dan Kyai Idris di http://www.muslimoderat.net/2016/02/betapa-tawadhunya-romo-yai-idris.html

Semoga kita bisa mengikuti kemuliaan akhlak Nabi, Amiin amiin,,,

Wallahu A’lam

Alhamdulillaahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Selasa Kliwon, 9 Juli 2019 M / 6 Dzulqo’dah 1440 H

Wawan Setiawan

Sumber : Ceramah Habib Munzir bin Fuad Al Musawa Majelis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, 17 Maret 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *