Mahjuuroo, Bahkan Al-Qur’an punya Perasaan

2 min read

Al-Qur’an punya perasaan. Itulah yang ingin ditanamkan dalam lubuk hati kita melalui artikel ini. Agar kita mulai belajar memperlakukannya dengan sebaik baiknya.

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Mahjuro bisa berarti dibiarkan, diputuskan, disingkirkan, ditinggalkan atau bahasa anak muda sekarang dicuekin, diputusin, ditinggalin. Saya tidak perlu menjabarkan lagi kata kata itu. Karena saya yakin sudah sangat dipahami, khususnya bagi kalangan muda, ada yang mengalami muda.

Dicuekin, diputusin, ditinggalin ini jika digabungkan menjadi satu kata “Sakit Hati”

Setuju ?

Ternyata kelak Al-Qur’an pun mengadu kepada Allah, bahwa ia Mahjuuroo, dicuekin, diputusin, bahkan disingkirkan dan ditinggalkan.

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini mahjuuroo“. (QS. Al-Furqon/25 : 30)

Itu adalah pengaduan Rasul kepada Allah, atas perlakuan umatnya kepada Al-Qur’an. Dan itu benar benar kita rasakan pada diri kita dan keluarga kita sekarang. Berapa lama kita memegang HP ? Berapa lama kita memegang mushaf ? Berapa lama kita membaca Al-Qur’an berapa lama kita membaca status yang (kadang sebenarnya) tidak penting sama sekali ?

Mufassir mengatakan, ayat di atas juga merupakan ayat pengaduan dari Al-Qur’an di hadapan Allah ta’ala. Al-Qur’an mengadukan perlakuan kita padanya selama ia bersama kita. Selama ia tinggal di rumah kita. Selama ia diletakkan di atas lemari kita sampai berdebu.

Baca Kisah Ulama yang melihat cahaya Al-Qur’an di : https://www.mqnaswa.com/kisah-ulama-yang-melihat-cahaya-al-quran/

Perhatikanlah mushaf kita, dan kira kira perasaan apa yang terpendam dalam “dirinya” jika ia bisa berkata ?

Apakah Al-Qur’an punya perasaan ?

Ya punya !

Perhatikanlah ayat berikut :

يٰسۤ. وَاْلقُرْآنِ الْحَكِيْمِ

Yaa Siin Demi Al Qur’an yang penuh hikmah (QS. Yasin / 36 : 1-2)

Kata “hakiim” biasa diterjemah dengan “penuh hikmah”, “menetapkan hukum” dan bisa juga diartikan “bijaksana”. Karena memang hakim adalah seorang yang memiliki banyak pengetahuan dan hikmah, ia menjadi orang yang menetapkan hukum dengan penuh kebijaksanaan.

Di sini Al-Qur’an Allah gambarkan seolah-olah seperti “sosok” yang memiliki ruh (seperti halnya manusia). Memang di dalam Al-Qur’an, Allah pun menggambarkan Al-Qur’an sebagai “ruh”. Perhatikan ayat berikut ini :

وَكَذٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ أَمْرِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an (ruh) dengan perintah Kami (QS. Asy-Syuro/42 : 52)

Ayat diatas jelas sekali  menyebut Al-Qur’an dengan kata “ruh”, yang mana kata “ruh” adalah identik dengan “makhluk hidup” yang memiliki “perasaan”. Maka pantas saja, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa memberi nama pada pedang dan hewan hewan tunggangan yang beliau miliki. Seolah pedang dan hewan itu “seperti manusia” yang senang dan bangga jika diberi nama/ julukan yang indah dan hebat.

Dalam Kitab Nashoihul Ibad dikatakan : Berkata Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, “Ada 6 hal yang merasa asing/ kesepian/ sendirian, ketika berada dalam 6 keadaan :

  1. Masjid, ia merasa asing/ kesepian ketika berada di tengah kaun yang tidak mau shalat di dalamnya.
  2. Mushaf, ia merasa asing/ kesepian ketika berada di tengah kaum yang tidak membacanya
  3. AlQur’an, ia merasa asing/ kesepian jika berada di hati orang fasik, yakni orang yang tidak mau mengamalkan isinya.
  4. Wanita muslimah shalihah, ia merasa asing/ kesepian jika bersama lelaki/ suami yang dhalim
  5. Lelaki muslim yang shalih, ia merasa asing/ kesepian jika bersama wanita yang rendah budi pekertinya
  6. Orang Alim (berilmu), ia merasa asing/ kesepian jika bersama orang orang yang tidak suka mendengarkan ilmunya.

Maka banyak pula riwayat yang mengatakan, kelak Al-Qur’an “diwujudkan” oleh Allah sebagai “makhluk” yang indah, yang akan menemani ketika kita benar benar kesepian dalam kesendirian di kubur. Ia menghibur kita dan menjadi penolong kita sejak menghadapi malaikat Munkar Nakir hingga ia pun menjadi “hujjah” (pembela) di hadapan Allah ta’ala.

Bahkan sejak di dunia pun ia sebenarnya menemani kita, menjadi teman kita, hanya saja kita mengacuhkannya, seperti menganggapnya tidak ada. Na’udzu billah, jangan sampai kemudian sahabat penolong kita itu, justru yang akan menuntut kita di hadapan Allah ta’ala, karena ia merasa disingkirkan, ditinggalkan, mahjuuroo,,,

Silahkan download cara mengkhatamkan Al-Qur’an, 1 hari, 7 hari, 30 hari (1 bulan), 2 bulan, 4 bulan, 1 tahun bahkan 2 tahun. Pada link berikut ini : https://drive.google.com/open?id=1MVoSWsdHdl-_xpgtm5dCOP7hJ1v-Np1K

Artinya, tidak ada alasan kita tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, seberapa pun sibuknya, kita harus membaca Al-Qur’an setiap hari. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk senang memegang mushaf Al-Qur’an, senang membaca ayat ayat suci Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an teman kita di dunia, di barzakh sampai di akhirat nanti.

Amiin amiin,,

 

Wallahu A’lam

Alhamdulillaahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Senin Pahing, 9 September 2019 M / 9 Muharram 1441 H

Wawan Setiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *