Kisah Nabi Isa dan Gunung yang Bercahaya

2 min read

Kisah yang memadukan keistimewaan bulan Rajab dan keistimewaan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Alhamdulillah, kita telah banyak menceritakan hikayat hikayat para Nabi dan orang-orang shaleh. Semoga menjadi wasilah turunnya rahmat Allah ta’ala, sebagaimana ungkapan “mengingat ingat orang shaleh menurunkan rahmat Allah”. Amiin.

Khusus untuk Nabi Isa ‘Alaihis salam telah ada beberapa artikel mengenai beliau dalam web ini :

Kisa Nabi Isa tentang Nilai Persahabatan : https://www.mqnaswa.com/kisah-nabi-isa-tentang-nilai-persahabatan/

Kisah Nabi Isa tentang keistimewaan hari Jum’at : https://www.mqnaswa.com/nabi-isa-alaihis-salam-keistimewaan-hari-jumat-dan-makam-bercahaya/

Kisah Nabi Isa membangkitkan Sam putera Nabi Nuh ‘Alaihis Salam :https://www.mqnaswa.com/kisah-nabi-isa-membangkitkan-sam-bin-nuh/

Kali ini, kita akan menceritakan / menukil kisah Nabi Isa ‘Alaihis salam, yang berhubungan dengan keistimewaan bulan Rajab, sekaligus keistimewaan umat Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pada suatu waktu, Sayidinâ ‘Îsâ ‘Alaihish Sholâtu Was Salâm berjalan melewati hutan, hingga beliau melihat satu gunung yang mencorong bercahaya. Maka Nabi ‘Îsâ bermunajat, “Ya Allâh, semoga Engkau berkenan menjadikan gunung itu berbicara”.

Maka gunung itu pun berbicara, “Ya Rûhullah, apakah yang tuan kehendaki”. (Ruhullah adalah panggilan keagungan untuk Nabi Isa ‘Alaihis salam)

Nabi ‘Îsâ berkata, “Aku ingin mengetahui kisahmu sehingga tampak demikian bercahaya”. Memang sebuah rumah/ tempat yang di dalamnya digunakan untuk beribadah kepada Allah, rumah / tempat itu menjadi bercahaya. Namun cahaya ini hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang dibuka mata hati (bashiroh) nya oleh Allah ta’ala.

Hal ini disabdakan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa beliau berkata, sebagaimana kita melihat langit yang penuh dengan gemerlap bintang di malam hari. Kita pasti melihat, ada bintang yang kecil, ada bintang yang menyala terang, ada pula bagian langit yang gelap gulita.

Demikianlah para malaikat yang melihat ke bumi. Rumah-rumah di bumi itu seumpama bintang-bintang di langit. Ada yang menyala terang (dalam pandangan malaikat), ada yang redup, bahkan ada yang gelap gulita. Kita pasti sudah bisa menebak, rumah yang terang adalah rumah yang di dalamnya banyak digunakan untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Sebagaimana gunung yang lihat bersinar oleh Nabi Isa Alaihis salam.

Ketika ditanya mengapa ia bercahaya, gunung itu berkata, “Di dalam ku ada seorang lelaki ahli ibadah”.

Maka Nabi ‘Îsâ kemudian bermunajat kepada Allâh, “Ya Robbî, semoga Engkau berkenan mengeluarkan lelaki ahli ibadah itu”.

Terbukalah gunung itu, dan keluarlah seorang lelaki tua yang indah wajahnya. Nabi ‘Îsâ bertanya kepadanya, “Wahai orang tua, ceritakanlah kepadaku  tentang kisahmu sehingga beribadah di dalam gunung itu?”

Orang tua tersebut menjawab, “Wahai ‘Îsâ, aku ini adalah kaum Nabi Mûsâ Alaihish Sholâtu Was Salâm. Aku memohon kepada Allâh dipanjangkan usia agar aku bisa mengalami zamannya Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam, supaya aku bisa menjadi umat Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam”. Sekarang aku telah 600 tahun beribadah di dalam gunung ini”.

Nabi ‘Îsâ kemudian bermunajat, “Ya Robbî, apakah ada orang di atas bumi ini yang keutamaannya melebihi orang ini?”

Maka Allâh Subhânahû waTa’âlâ berfirman, “Wahai ‘Îsâ, di sisi-Ku, umat Muhammad yang berpuasa Rajab satu hari, lebih utama dari pada orang ini”.

Dalam kisah ini, sangat jelas bagaimana istimewanya Bulan Rajab, sekaligus bagaimana Allah mengistimewakan kita, umat Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam. Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan umat beliau, yang berusaha sungguh sungguh meraih keberkahan yang banyak di bulan Rajab yang agung ini. Amiin.

Jangan sampai terlewat, baca amalan Bulan Rajab di : https://www.mqnaswa.com/amalan-rajab-dari-kiai-shaleh-darat/

Wallahu A’lam

Alhamdulillaahi robbil ‘alamin

Kertanegara, Rabu Kliwon, 6 Maret 2019 M / 29 Jumadil Akhir 1440 H

Wawan Setiawan Sumber : Kitab Lathâifuth Thahârah wa Asrôrush Sholât, karangan Mbah Sholeh Darat Semarang.

2 Replies to “Kisah Nabi Isa dan Gunung yang Bercahaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *