Kemuliaan Wanita dalam Kitab Sekar Kedhaton

3 min read

Artikel ini akan membahas kemuliaan wanita yang disuratkan dalam sebuah kitab karangan ulama Nusantara berjudul Sekar Kedhaton Li Ta’nisi Ahlil Wathon (Bunga Kedaton : untuk ketentraman dalam keluarga).

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Wanita adalah makhluk yang dianggap hanya pelengkap saja. Peradaban besar sebelum Islam, menempatkan wanita dalam posisi yang sangat rendah.  Di kalangan elite, dalam peradaban Yunani, wanita-wanita ditempatkan (disekap) dalam istana-istana. Sementara di kalangan bawah, nasib wanita sangat menyedihkan.

Dalam peradaban Romawi, wanita sepenuhnya berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah kawin, kekuasaan tersebut pindah ke tangan sang suami. Kekuasaan ini mencakup kewenangan menjual, mengusir, menganiaya, dan membunuh Keadaan tersebut berlangsung terus sampai abad ke-6 Masehi.

Islam datang untuk mengangkat derajat wanita dalam derajat yang semestinya. Allah sangat memuliakan wanita, sampai-sampai “mentakdirkan” seluruh keturunan Nabi, yang kemudian menjadi awliya, mejadi imam imam mujtahid, menjadi ulama dan shalihin, semua terlahir dari dari keturunan perempuan (karena semua anak lelaki Nabi diwafatkan Allah dalam usia yang masih belia).

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami (Allah) memberikan padamu Al-Kautsar” (QS. Al-kautsar/108 : 1)

Sebagian mufassir mengatakan bahwa makna “al-Kautsar” pada ayat tersebut adalah nikmat-nikmat yang sangat banyak dan agung di dunia dan akhirat. Salah satu dari nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi adalah nikmat anak keturunan yang tidak akan habis sampai kiamat. Karena konteks ayat itu adalah sebagai jawaban dari hinaan kafir Quraisy yang menghina Nabi sebagai abtar (tidak punya keturunan). Justru semua orang yang menghina Nabi itu “di-putus” keturunannya oleh Allah ta’ala, sedangkan Nabi dilanggengkan keturunannya.

Dan untuk “mewujudkan firman-Nya” ini Allah mentakdirkan melalui Sayidah Fathimah (anak perempuan), bukan seperti umumnya, yaitu dari anak laki-laki.

Maka, meskipun masih banyak pemahaman bahwa wanita lebih rendah derajatnya dari laki-laki dalam fikiran umat Islam sendiri, tapi banyak ulama yang mengungkapkan kemuliaan, kekhususan dan kedudukan wanita yang tidak bisa ditempati oleh laki-laki.

Salah seorang ulama Nusantara, Syaikh Abu Muhammad Shalih, dari Juwana, Pati, Jawa Tengah, menulis sebuah kitab yang berjudul Sekar Kedhaton (Bunga Kedaton/ Keraton) yang isinya mengenai nasihat bagi lelaki dan perempuan, khususnya dalam masalah rumah tangga. Kitab tersebut disusun dalam bentuk nadhom (bait syair) sebanyak 327 bait.

Dalam bait yang ke 139-141 penulis menyusun syair yang menunjukkan besarnya pahala dan tingginya kemuliaan wanita yang sedang hamil. Dikatakan dalam kitab tersebut :

Yaiku Allah lamun maringe – ning iku wadon hasil metenge
lan malaikat sekabehane – pada nyuwuna ing ngapurane
|dosane wadon saben dinane – den tulis amal kebagusane
ping sewu amal siji dinane – den lebur sewu amal alane

Jika Allah menghendaki memberikan anugerah keturunan, ketika sang isteri hamil maka setiap hari malaikat memohonkan ampunan bagi dosa-dosanya, setiap amal kebaikan yang dilakukan ditulis 1000 kali lipat dan dilebur 1000 amal keburukannya. Demikian itu setiap hari nya.

Kehamilan adalah kedudukan yang khusus, hanya dimiliki oleh wanita. Lelaki mustahil untuk hamil (he he,,, ). Artinya Allah memberikan kedudukan yang tinggi (khusus) terhadap wanita. Kedudukan khusus ini dinyatakan secara gamblang oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :

وَوَصَّيْنَا اْلِإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ

Dan Kami wasiatkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, (QS. Luqman/31 : 14)

Mengandung adalah proses yang sangat panjang. 9 Bulan atau sekitar 40 pekan, alias 300-an hari, sama dengan 7.200 jam. Yang seiring waktu berjalan, terasa semakin berat semakin berat seperti dinyatakan dalam ayat di atas “Wahnan ‘alaa wahnin” payah di atas payah.

Apalagi jika kita menghayati makna rahim, tempat bersemainya sang jabang bayi calon manusia. Maka akan semakin fahamlah kita betapa Allah melalui Al-Qur’an menempatkan wanita dalam kedudukan yang istimewa.

Bagaimana dengan wanita yang tidak memiliki anak, apakah kedudukannya tetap istimewa ? tentu saja istimewa. Karena meski ia tidak hamil, tetap Allah berikan “rahim” di dalam dirinya. Lebih jelasnya baca di : https://www.mqnaswa.com/wanita-adalah-pengemban-lambang-kasih-sayang/

Adapun persoalan hamil ini, karena melihat pada “tugas khusus” dari wanita, dan hal yang terjadi pada diri wanita yang menunjukkan kemuliaan/ kedudukannya. Demikian besar peran wanita dalam kehamilannya untuk kelestarian kehidupan umat manusia.

Maka tidak heran jika Allah memberikan “fasilitas” khusus, yakni “setiap hari malaikat memohonkan ampunan bagi dosa-dosanya, setiap amal kebaikan yang dilakukan ditulis 1000 kali lipat dan dilebur 1000 amal keburukannya. Demikian itu setiap hari nya”. Adakah amal yang se-dahsyat ini ?

Lalu pada bait ke 143 sampai dengan 146, Muallifnya mengatakan dalam syair :

Lamun wadon iku nglarane – sebab wus karep metu bayine
iku den tulis wadon duwene – ganjaran akeh kaya padane
wong perang sabil lamun bayine – wus sida metu wadon temtune
dosane resik kaya bayine – kang lagi metu saking ibune

Rasa sakit yang dialami seorang perempuan ketika akan melahirkan ditulis seperti kebaikan seorang yang berperang fi sabilillah. Dan ketika bayinya telah lahir, maka bersihlah dosa-dosa ibunya, suci seperti bayinya .

Kita tentu sepakat, tidak ada perempuan yang melahirkan tanpa diiringi rasa sakit. Bahkan rasa sakit melahirkan – tampaknya – demikian dahsyat. Sampai – sampai Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an dengan gambaran yang sangat berat :

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (maryam untuk bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (QS. maryam/19 : 23)

Lihatlah, seorang waliyah (wali perempuan) sekaligus keponakan Nabi seperti Sayidah Maryam sampai mengatakan “Alangkah baiknya aku mati sebelum ini”.

Pantas saja jika Allah mengganjar rasa sakit itu dengan “Jihad Fii Sabiilillah” (berperang di jalan Allah). Memang kemungkinan bagi seorang ibu yang melahirkan adalah hidup atau mati. Itu sudah umum diketahui kita semua. Dan sangat pantas juga jika setelah proses (kehamilan dan melahirkan) yang panjang itu, Allah menghapus dosa-dosanya.

Adakah yang lebih mulia dibandingkan orang yang bersih tidak punya dosa ? Artinya orang itu “seperti” para Nabi yang dijaga dan sama sekali tidak punya dosa. Adakah derajat yang melebihi ini ?

Wallahu A’lam
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamin

Kertanegara, Naswa
Sabtu Kliwon, 25 Januari 2020 M / 29 Jumadil Awal 1441 H
Wawan Setiawan

2 Replies to “Kemuliaan Wanita dalam Kitab Sekar Kedhaton”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *