4 Rahasia Nabi Adam Memakan Buah Khuldi ?

3 min read

Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Maka kisah mengenai beliau harus digali agar mengetahui sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan penciptaan)

Bismillahir rahmaanir rahiim

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكِ لَا يَبْلٰى

Kemudian syaitan membisikkan pikiran buruk kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Nabi Adam akhirnya memakan buah Khuldi. Buah yang dilarang Allah untuk mendekatinya, apalagi sampai memakannya.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مَنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.

Pertama, Nabi Adam adalah “murid” langsung dari Allah ta’ala, karena Allah ta’ala yang mengajar kepada beliau seluruh nama nama. Dengan derajat seperti itu pula Nabi Adam mendapat kemuliaan khusus, sehingga malaikat semuanya bersujud. Kecuali Iblis yang tidak mau. Demikian sudah sangat masyhur.

Nabi Adam pun, telah diberitahu oleh Allah, karena pembangkangan iblis ini, maka Iblis adalah musuh yang paling nyata bagi Nabi Adam. Allah pun mengingatkan agar Adam waspada kepadanya.

Dalam hal ini pun Nabi Adam ‘Alaihis salam bisa menyaksikan Iblis dan begitu pula sebaliknya. Tapi mengapa, dalam kedudukan yang demikian istimewa, Nabi Adam masih terbujuk untuk memakan buah khuldi ? Aneh sekali bukan ?

Ini artinya, tidak ada yang bisa menjamin selamat dari iblis, selamat dari apa pun yang menggelincirkan, kecuali karena jaminan penjagaan dari Allah ta’ala.

Apakah ini berarti Nabi Adam tidak dijaga Allah dari Iblis ?
Bukan demikian, tapi memang “Adam memakan buah khuldi” adalah sudah menjadi ketetapan Allah ta’ala sebelumnya. Jadi, seberapa besar pun kapasitas, pengetahuan dan sebagainya, yang berlaku dan terjadi, tetaplah apa apa yang sudah ditetapkan oleh Allah ta’ala.

Maa Syaa Allaahu kaana wamaa lam yasya’ lam yakun. Apa apa yang dikehendaki Allah lah yang terjadi, dan apa yang tidak dikehendakiNya, tidak akan terwujud.

Inilah jalan yang harus dilalui oleh Nabiyullah Adam ‘Alaihis salam. Karena bagaimana pun Allah memang menciptakannya untuk menjadi khalifah di bumi raya ini. Bukan di syurga.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Kedua, buah khuldi adalah buah yang paling lezat dari seluruh buah di syurga. Ingat kelezatan buah syurga bisa berjuta juta kali lipat dari lezatnya buah di dunia. Memakan buah khuldi ini memiliki rahasia yang kelak sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Buah khuldi yang lezat ini akan meresap dalam seluruh darah Nabi Adam dan ibu Hawa. Meresap dalam seluruh urat, pori pori kulit dan semuanya.

Kelak, menurut Kyai Sholeh Darat, inilah yang akan menjadi pemicu kelezatan dalam hubungan pernikahan (suami isteri). Dan sebagaimana kita ketahui, hal ini dijadikan Allah sebagai jalan meneruskan keturunan Nabi Adam dan Ibu Hawa sampai hari kiamat. Sebab sekali lagi, Adam diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Bagaimana mungkin akan terus berlangsung “tugas kekhalifahannya” jika beliau tidak memiliki keturunan ?

Baca kisah Nabi Nabi yang lainnya, antara lain : https://www.mqnaswa.com/nabi-ayyub-malu-berdoa-kepada-allah/

Ketiga, Khuldi itu artinya kekal. Buah khuldi adalah buah yang ketika dimakan menjadikan orang yang memakannya kekal, tidak akan mati, demikian pengertian asalnya. Hal itu pula yang dijanjikan atau dibisikkan setan kepada ayahanda kita Nabi Adam ‘alaihis salam dan Ibu Hawa.

Lihat kembali ayatnya :
“Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Apakah memang demikian khasiat khuldi ? Bisa jadi dan mungkin saja. Tetapi bukan Khuldi faktor penentunya. Melainkan Allah. Artinya terserah Allah saja. Setelah makan khuldi menjadi kekal ya bisa, tidak kekal juga bisa. Buktinya setelah makan khuldi Nabi Adam tidak mendapat hidup kekal dan tidak memeroleh kerajaan yang abadi.

Setan mengalihkan faktor penentu kepada Khuldi. Demikian juga kita sering mengira bahkan meyakini bahwa faktor penentu kebahagiaan dan kekuatan, faktor penentu kenaikan jabatan, keberuntungan atau kerugian dan sebagainya adalah “ini atau itu, alias khuldi”. Bukan Allah.

Jadi bujukan memakan khuldi bukan hanya berlangsung pada masa Nabi Adam. Tetapi terus berlangsung hingga kita di zaman milenial ini. Kita lah “Adam-nya”, setan dan iblisnya masih tetap sama, khuldinya yang berubah rubah.

Keempat, Maka kita menjadi faham bahwa, ternyata bukan memakan khuldi yang membuat Nabi Adam “terusir” dari syurga. Tetapi karena mengikuti setan. Perhatikan lebih teliti ayatnya :

وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظَّالِمِيْنَ

dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.

Mendekati atau memakan khuldi “hanya” menempatkan Nabi Adam sebagai “dholim”. Dholim itu berbuat salah dengan kesalahan biasa, dosa kecil, dosa besar, sampai kemusyrikan (dosa paling besar), semuanya bisa masuk dalam kategori dholim. Maka para ulama berbeda pendapat, apakah Nabi Adam berdosa atau tidak ketika makan Khuldi ? ini dibahas di bagian lain saja, insya Allah.

Tetapi yang membuat beliau Nabiyullah Adam dikeluarkan dari syurga digambarkan ayat berikutnya :

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ

Lalu Setan menggelincirkan keduanya dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula.

Nabi Adam “mengikuti” bisikan setan, itu poinnya. Lalai bahwa Allah lah yang menentukan keabadian, anugerah kerajaan dan semuanya.

Tapi sekali lagi, kita tidak boleh mencela Nabi Adam, karena bagaimanapun semua terjadi, hanya karena kehendak Allah semata. Karena jangan jangan, kita makan buah khuldi setiap hari. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.

Wallahu A’lam
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamin,
Kertanegara, Kamis Legi, 29 Agustus 2019 M, 28 Dzulhijjah 1441 H
Wawan St

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *