Apakah Beban Paling Berat bagi Nabi ?

3 min read

Setiap orang tentu memiliki beban hidup. Baik itu dalam pemikirannya, dalam perasaannya, maupun dalam tanggung jawabnya. Semakin tinggi seseorang semakin besar pula bebannya. Beban dan pemikian seorang anak tentu lebih kecil daripada orang dewasa karena tanggung jawab orang dewasa pasti lebih besar. Tanggung jawab pemimpin lebih besar juga seukur dengan besar dan luas kepemimpinannya.

Terdapat satu ayat yang menunjukkan beban yang sangat berat, yang ditanggung oleh Sayidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Allah ta’ala berfirman :

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

“Dan telah kami hilangkan darimu, bebanmu” QS. Al-Isyirah/94 : 2

“Wizr” dalam ayat ini adalah suatu beban yang sangat berat bagi Nabi. Gambarannya adalah seseorang yang menghadapi beban yang sangat berat, ketika ia mengangkat beban itu otot-ototnya keluar, tapi masih belum terangkat, hingga ia pun harus mengeluarkan suara tertahan yang menunjukkan ia telah mengeluarkan seluruh tenaganya.

Atau digambarkan dengan sesuatu yang di atasnya ada beban berat. Ketika sesuatu itu mengangkat beban di atasnya sampai keluar suara yang menunjukkan alat yang digunakan hampir tidak mampu untuk mengangkat bebannya.

Para ulama menjelaskan beberapa pendapat mereka tentang makna beban berat untuk Nabi dalam ayat ini. Di antaranya :

  1. Beban Nabi memikirkan masa lalu beliau ketika belum menjadi Nabi dan Rasul. Beliau merasa berat memikirkan bahwa pada masa sebelum menjadi Rasul belum mengenal Allah sebagaimana setelah diangkat menjadi Rasul.

Rasul merasa banyak kelalaian, keluputan. Hal ini bukan berarti Rasul melakukan dosa atau –bahkan- ikut menyembah berhala seperti musyrikin. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dijaga oleh Allah dari berbuat dosa. Tapi kesalahan kecil bagi manusia biasa terasa berat bahkan sangat membebani bagi orang yang dekat dengan Allah.

Maka, dengan turunnya ayat ini, Allah telah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan Nabi dari dahulu dan yang akan datang. Mufasir menafsiri ayat ini dengan : QS. Al-Fath/48 : 2 :

لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَ مَا تَأَخَّرَ

“Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang

  1. Beban Nabi dalam melaksanakan tugas risalah, menegakkan urusannya, menjaga hak haknya. Seorang ayah saja, tentu berat melaksanakan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Ia bertanggung jawab memikirkan masa depan keluarga. Mendidik isteri dan anak anak. Mengarahkan anak anak agar bisa mencapai masa depan yang cemerlang dan menjaga mereka dari hal hal yang merusak. Itu baru tugas seorang ayah terhadap keluarga. Bagaimana dengan tugas seorang Nabi terhadap seluruh umatnya?

Dalam suatu riwayat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada para sahabat, “Kalian akan ditanya tentang aku. Apa yang akan kalian katakan?

Para sahabat menjawab, “Kami bersaksi wahai Rasulullah, bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasihati umat”.

Rasul berkata, “Ya Allah, saksikanlah”

Dengan turunnya ayat ini Allah telah menolong Nabi untuk melaksanakan tugas kenabianNya, menolong Nabi untuk dapat mensukseskan risalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga wafat beliau dalam keadaan telah menunaikan segala tugas dan amanat yang dibebankan.

  1. Wafatnya Abu Thalib dan Sayidah Khadijah, meninggalkan bekas duka yang mendalam bagi Nabi. Musyrikin Makkah pun semakin memusuhi Nabi dengan berbagai cara yang lebih dahsyat dari sebelumnya, sehingga makin beratlah beban Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dengan turunnya ayat ini, menunjukkan Allah telah mengangkat beban Nabi, yakni dengan memperjalankan beliau dalam perjalanan agung Isra Mi’raj. Napak tilas perjuangan para Nabi hingga Nabiyullah Adam ‘Alaihimus Salam. Bahkan mendapat kemuliaan yang tidak diberikan Allah kepada semua hambaNya. Perjalanan itu membawa dampak yang besar dalam menambah kekuatan batin Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam perjuangan dakwah.

  1. Beban Nabi karena selalu memikirkan dosa dosa umatnya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ قَالَا حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنْ الطَّرِيقِ وَوَجَدْتُ فِي مَسَاوِي أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةَ تَكُونُ فِيالْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma’ adh-Dhuba’i dan Syaiban bin Farrukh keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun telah menceritakan kepada kami Washil, maula Abu Uyainah dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abu al-Aswad ad-Diliyyi dari Abu Dzarr dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, “Ditampakkan kepadaku semua amal umatku, yang baik dan yang buruk. Maka aku mendapatkan di antara kebaikan amal umatku adalah membuang rintangan yang mengganggu di jalanan. Dan aku mendapatkan dalam amal jelek umatku adalah meludah di masjid tanpa dipendam’.”Hadits Ibnu Majah No. 3673. Hadits Muslim 859.

Tampaknya beban terakhir inilah yang bertambah dan bertambah. Hingga hari kiamat tiba. Setiap kali umatnya melakukan keburukan dan –apalagi- dosa, semakin beratlah beban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata, kita lah beban terberat bagi Nabi. Beban yang terus menerus, tidak pernah ada habis habisnya. Sedangkan kita. Apakah beban berat untuk kita? Tidak lebih dari kisaran harta dan kesenangan dunia saja.

Sebuah kisah yang pasti menggetarkan hati kita. Ketika para ummahatul mukminin (isteri isteri Nabi) kehilangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah malam, dan ternyata beliau sedang di pemakaman Baqi, menangis berdo’a untuk umatnya. Selengkapnya di http://www.mqnaswa.com/saat-ibu-aisyah-kehilangan-nabi/

Karena Nabi adalah orang yang sangat memikirkan umatnya. Di dunia hingga akhirat. Beliau sangat menginginkan keselamatan mereka dan beliau adalah orang yang sangat dalam belas kasihnya.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Telah datang kepada kalian, Rasul dari golongan kalian, (sifatnya) : berat terasa olehnya beban (penderitaan) kalian, sangat menginginkan keselamatan untuk kalian, amat belas kasih dan penyayang kepada orang beriman” QS. AtTaubah/9 : 128

 

Wallahu A’lam

Kertanegara, Kamis Wage, 15 November 2018 M / 7 Rabi’ul Awwal 1440 H

Wawan Setiawan

Sumber :

  1. Imam Abu Muhammad Husan AlBaghawi,Tafsir Al-Baghawi, hlm. 1418
  2. Syaikh Nawawi Banten, Tafsir Munir, Juz 2 : hlm. 449
  3. Imam Abul Fida ‘Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim (Tafsir Ibnu Katsir), Juz 8 : hlm. 430
  4. Imam ‘Alauddin bin ‘Ali bin Muhammad bin Ibrahim AlBaghdadi, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil (Tafsir Khazin), Juz 4 :hlm 441

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *