4 Kelompok Manusia di Alam Arwah

3 min read

Pengajian Kitab Lathoifuth Thoharoh Bagian Ke-1 tentang 4 Kelompok Manusia di Alam Arwah

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Manusia telah ditentukan oleh Allah ta’ala dalam keadaan yang berbeda beda. Ada yang menjadi Nabi/ Rasul, ada yang menjadi para kekasih Allah, ada juga yang menjadi orang kebanyakan (‘awam). Ada yang beriman dan bertakwa kepada Allah, ada pula yang berani menentangNya. Allah telah menentukan siapa yang kelak menjadi Nabi Adam, siapa kelak yang menjadi manusia paling mulia, Sayidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan siapa yang menjadi manusia paling hina, seperti Fir’aun.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah ta’ala, yang telah menjadikan kita manusia yang beriman kepada-Nya.

Menurut Kiai Shaleh Darat, keadaan manusia di dunia ini tidak lepas dari keadaan mereka ketika masih di alam arwah. Dalam kitab Latha-ifuth Thaharah wa Asrarush Shalat (rahasia-rahasia dalam bersuci dan shalat) halaman 4-6 dijelaskan bahwa :

Ketika masih berada di alam arwah, Allah berfirman kepada seluruh arwah manusia dari awal sampai akhir, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf/7 : 172) :

أَلَسْتُ بِرُبِّكُمْ قَالُوْا بَلٰى

Bukankah Aku adalah Rabb (Tuhan)-kalian? Mereka menjawab Benar. (Engkau adalah Tuhan kami).

Pada waktu itu, seluruh arwah berbaris menjadi 4 shaf (barisan) :

Shaf yang pertama, adalah ruh para Nabi dan Rasul, mereka langsung mendengar dan mu’ayanah (menyaksikan) firman Allah itu tanpa perantara. Maka mereka menjawab dengan tanpa keraguan sama sekali.

Shaf yang kedua, adalah ruh para ‘Ulama dan Awliya’, mereka mendengar dan musyahadah (menyaksikan) firman Allah ta’ala itu melalui perkataan para Rasul. Mereka pun turut menjawabnya mengikuti jawaban para Rasul.

Demikan shaf yang ketiga. ruh orang-orang beriman. Mereka mendengar dari ajaran para Ulama dan Awliya, dan menjawabnya mengikuti jawaban mereka.

Sedangkan shaf yang keempat, ruh orang-orang munafik dan orang-orang kafir, mereka hanya mendengar suara tapi tidak memahami maksudnya. Maka mereka hanya ikut ikutan menjawab “balaa” (iya), tapi sama sekali tidak mengerti maksudnya. Bahkan ada juga di antara mereka yang sama sekali tidak mendengar firman Allah ta’ala itu.

Kelak ketika lahir ke alam dunia, kelompok dalam shaf keempat ini sama sekali tidak mau beriman dan tidak mau mendirikan shalat. Karena memang sejak awal di alam arwah, mereka tidak mendengar dan mengerti firman Allah ta’ala. Ini lah golongan orang-orang kafir (Kafirun).

Ada juga dari kelompok shaf ke-4 ini yang beriman, tetapi imannya hanya di lisan saja, tidak sampai di hatinya. Dia mau mendirikan shalat hanya ikut ikutan, tidak dengan kesungguhan. Inilah golongan orang-orang munafik (Munafiqun).

Adapun shaf yang ketiga adalah shaf orang-orang Islam dan ‘Awaamum mukminiin (orang beriman yang awam/ umum). Ketika di alam arwah mereka telah mendengar firman Allah ta’ala, sehingga ketika lahir di alam dunia ini pun mereka mau beriman dan mau mendirikan shalat,. Mereka mendirikan shalat dengan mengikuti firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an secara syari’at (fikih), tapi tidak menjangkau hakikatnya.

Adapun shaf yang kedua adalah shaf khawaashul Mukminiin (Orang beriman yang khusus) dan ‘Awaamul Awliyaa’ (para awliya yang ‘awam/ umum). Ketika berada di alam arwah, mereka telah beriman, maka ketika di alam dunia pun mereka beriman dan mau mendirikan shalat. Mereka mendirikan shalat karena melihat dalil /petunjuk  / firman firman Allah ta’ala bukan hanya secara syari’at, tetapi hingga secara makrifat (mengenal hakikatnya).

Dan yang berada di shaf pertama adalah para Nabi / Rasul dan khawaashul Awliya’ (para awliya yang khusus). Ketika di dalam arwah, mereka telah beriman dengan cara mu’ayanah (menyaksikan langsung tanpa perantara), maka ketika di dunia pun mereka beriman kepada Allah dan mereka mendirikan shalat. Mereka mendirikan shalat dengan mu’aayanah (penyaksian langsung) kepada Allah ta’ala.

Kami menambahkan : Inilah yang dimaksud dengan ihsan. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya oleh malaikat Jibril ‘Alaihis Salam pengertian Ihsan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ. فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهٗ يَرَاكَ

Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah (beribadah kepada) Allah, (misalnya shalat), seolah olah engkau melihat Allah. Jika engkau tidak bisa melihat Allah, maka (hendaknya yakin bahwa) Allah melihatmu”.

Jika kita perhatikan hadits di atas, maka tingkat ihsan yang pertama adalah “menyembah Allah, seolah olah engkau melihat Allah”. Inilah yang terjadi pada diri Nabi, Rasul dan orang-orang yang dipilih oleh Allah ta’ala (Manusia-manusia yang ruhnya berada di shaf pertama)

Sedangkan ihsan yang kedua adalah “Jika engkau tidak bisa melihat Allah, maka (hendaknya yakin bahwa) Allah melihatmu”. Inilah ibadah yang dilakukan oleh manusia yang ruhnya (ketika di alam arwah) berada pada shaf kedua, yakni ‘Awaamul Awliyaa’ (para awliya yang ‘awam/ umum) dan khawaashul Mukminiin (Orang beriman yang khusus).

Sedangkan manusia yang ruhnya berada dalam shaf ketiga, yakni ‘Awaamum mukminiin (orang beriman yang awam/ umum), shalat dalam gerakan dhahir saja, tapi batinnya lalai kepada Allah. Atau ia mendapatkan derajat ihsan, tapi dalam keadaan tertentu (sangat sedikit). Misalnya hanya ketika takbir saja, atau sujud saja.

Demikianlah, ternyata keadaan manusia di dunia ini, dan ibadahnya serta makrifat (pengenalannya) kepada Allah telah ditentukan oleh Allah ketika meletakkan ruh kita pada barisan ke berapa  saat ruh kita itu masih berada di alam mitsaq (alam arwah).

Hal ini medorong kita untuk berusaha terus mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, karena kita tidak tahu, bisa jadi kita diciptakan Allah sebagai hamba yang dekat denganNya. Maka kita pun diperintah Allah untuk terus mendekat pada-Nya.

Sekaligus, hal ini mengajarkan kita untuk tawadlu’ (rendah hati) dan tidak merendahkan orang lain, karena kedudukan yang kita miliki adalah semata pemberian Allah ta’ala.

Semoga Allah menetapkan kita dalam Iman dan Islam. Amiin.

 

Wallahu A’lam

Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin

Kertanegara, Senin Kliwon, 26 November 2018 M/ 18 Rabi’ul Awwal 1440 H

Wawan Setiawan

 

Pengajian Kitab Lathoifuth thoharoh bagian Ke- 2 : https://www.mqnaswa.com/wudlu-batin-1-pemahaman-ayat-wudlu-dari-kiai-shaleh-darat/

Mengenal Kyai Sholeh Darat : https://www.nu.or.id/post/read/80227/mbah-sholeh-darat-sang-ghazali-kecil-dari-semarang

One Reply to “4 Kelompok Manusia di Alam Arwah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *